Janji Politik

“Janjimu sehidup semati hanya ada di lidah.
Rasa sayangmu sudah pergi, tak menghiraukan aku lagi.”
(Cinta Tak Terpisahkan, Cak Dikin)

Saya masih ingat bagaimana McGregor sesumbar akan mengalahkan Khabib. Bahkan menang KO. “Pertarungan nanti akan berakhir KO. Khabib terlalu mudah untuk dipukul, tidak lincah, dan gampang ditebak. Saya akan meng-KO Khabib dengan telak,” imbuh McGregor.

Memegang tahta sebagai juara dunia, McGregor memang amat pongah, seakan tahtanya tak mungkin direbut. Hingga tiba lah saat McGregor dikunci Khabib di pertandingan perebutan tahta itu, ia tidak bisa lepas. Kewalahan, McGregor pun menyerah pada Khabib.

Dalam politik memang wajar memberi janji-janji, tapi bukan janji-janji muluk.

Di Indonesia, terjadi hal yang sama. Industri minyak sawit sedang kewalahan. Dibanting, dijegal, oleh harga CPO (Crude Palm Oil) yang terus turun. Ancaman PHK massal di depan mata. Berbeda dengan McGregor, sebaiknya Indonesia tidak menyerah.

Seharusnya kejadian seperti ini tidak terjadi, kalau pemerintah tidak melanggengkan ekspor komoditas mentah seperti CPO dan karet. Pemerintah juga kurang menggenjot ekspor produk turunannya, seperti kosmetik dan ban karet. Sayangnya, kita terlanjur bangga, bersanding dengan Malaysia sebagai penguasa pasokan CPO terbesar di dunia. Hingga kampus-kampus di Indonesia dianjurkan membuat fakultas khusus sawit.

Apabila PHK besar-besaran buruh sawit benar-benar terjadi. Tentu, ini kontraproduktif dengan janji pemerintah untuk menurunkan pengangguran, apalagi membuka 10 juta lapangan pekerjaan.

Dalam politik memang sudah wajar memberi janji-janji, tapi janji-janji muluk seperti inilah yang coba dikurangi oleh Prabowo. Misalnya, Prabowo tidak berani menjanjikan menaikkan gaji guru hingga 20 juta karena hutang Indonesia yang terus naik setiap hari. Prabowo tak ingin menjanjikan hal yang belum pasti. Beliau menambahkan, “Kan kalau saya ngomong janji ini, janji itu, kan saya bohong kepada rakyat.”