Apa Kabar Tol Laut?

“Nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa”

Penggalan lagu berjudul Nenek Moyangku Seorang Pelaut ciptaan Ibu Soed di atas, sering saya nyanyikan di awal sekolah dasar. Saya menyanyikan dengan bangga, meski saya tinggal di pegunungan dan tidak pernah menjumpai pelaut. Saya hanya bisa membayangkannya, membayangkan kejayaan nenek moyang saya sebagai pelaut.

Bahkan, ketika saya beranjak dewasa, ternyata saya masih membayangkannya, karena Indonesia belum bisa mengulangi kejayaan sebagai bangsa pelaut. Hingga suatu saat saya membaca berita, pemerintah ingin memperkuat jati diri bangsa sebagai negara maritim terbesar di dunia, mengulang kejayaan nenek moyang kita. Tentu saya berharap bayangan saya segera terwujud. Lewat program bernama Tol Laut.

Masalah pada tol laut adalah masih banyaknya muatan kosong begitu kapal balik dari pelabuhan terpencil menuju Surabaya atau Jakarta.

Tol Laut ialah program untuk mengefektifkan pengangkutan logistik di Indonesia. Caranya dengan membuat jalur pelayaran bebas hambatan yang menghubungkan hampir seluruh pelabuhan di Indonesia. Diharapkan, jika program ini bisa terealisasikan dengan sempurna, dapat mengurangi biaya logistik yang efeknya menurunkan disparitas harga bahan pokok antara Jawa dan pulau-pulau di daerah timur Indonesia.

Sungguh suatu program yang mulia nan terpuji. Namun, apakah program ini telah berjalan baik? Sebab, setelah berjalan 4 tahun, logistic cost ternyata masih 24 persen dari PDB. Ini menunjukkan program Tol Laut tidak semulus tangan Raisa. Ada beberapa kendala.

Seperti dilansir Detik, banyak kapal kosong ketika kembali dari pelabuhan daerah menuju pelabuhan di Jawa (Surabaya dan Jakarta). Bahkan tingkat keterisian kapal 30-50% sudah dianggap bagus.

Masalah selanjutnya adalah banyaknya pengusaha memilih angkutan darat daripada Tol Laut. Ekonom Faisal Basri bahkan berani menyebut program Tol Laut sebagai omong kosong. Ia menilai program tol laut yang digagas pemerintah masih gagal karena tidak terbukti menurunkan biaya logistik (logistic cost). Selain itu, saat ini angkutan barang masih terpusat di jalur darat diangkut dengan truk-truk besar, 90% barang di Indonesia diangkut menggunakan truk, sementara di dunia, 70% barang diangkut dengan kapal meski tidak semua negara di dunia merupakan negara maritim seperti Indonesia.

Hutang naik setiap hari. Pemerintah terlalu banyak membuang anggaran negara untuk program yang sia-sia.

Bila setelah 4 tahun berjalan dan program ini belum menunjukkan hasil signifikan, apa harus dilanjutkan? Repotnya lagi Menteri Perhubungan malah berencana menambah 16 kapal baru untuk trayek Tol Laut pada 2019, dilansir Kompas. Tentu pemerintah akan mengucurkan sejumlah dana yang lumayan kolosal.

Sudah jelas, Prabowo mengingatkan, hutang Indonesia naik setiap hari. Sementara, pemerintah malah terlalu banyak membuang anggaran negara untuk program yang sia-sia.

Sebenarnya tidak apa-apa bayangan saya tentang kejayaan Indonesia sebagai bangsa pelaut gagal terwujud. Biarlah tetap menjadi bayangan. Sebab Indonesia telah berjaya di darat. Jalan tol yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya hampir selesai. Jadi suatu saat, anak cucu saya akan bernyanyi:

“Nenek moyangku seorang supir
di rest area kita kan mampir
menyalib truk tiada takut
di jalan pantura kita berjaya”